Rabu, 26 Juni 2013

Mimpi atau Nyata?


They say that dream are only real as long as they last. Couldn’t you say the same thing about life?


Jika mimpi terasa nyata selama mimpi itu masih berlangsung, bukankah hal yang sama berlaku terhadap kehidupan? Artinya, jika kehidupan telah berlalu masih bisakah kita menghatakan bahwa kehidupan yang kita jalani itu nyata? Padahal, yang tersisa hanyalah kepingan-kepingan memori yang sama sekali tidak terasa nyata.



Seperti halnya saat kita bertemu, saling tertarik menghabiskan waktu bersama-sama, lalu putus. Itu kan yang terjadi pada semua orang pacaran? Hanya saja ‘kita’ hanya terjadi dalam waktu yang singkat.


Well, dua minggu, enam bulan, dua tahun, sepuluh tahun, tak akan ada bedanya. Setelah orang yang pernah menjadi pasangan kita pergi, semuanya berakhir. Semua kenangan tinggal kenangan. Akhir cerita.


Hidup tak lebih nyata dibandingkan mimpi. Waktu tak lebih dari sekedar ilusi. Siapapun diri kita atau orang yang bersama dengan kita sekarang, semuanya suatu saat hanya akan menjadi memori. Jadi tak peduli sebesar apapun cinta kita terhadap seseorang, pada akhirnya semuanya akan berakhir. Menguap menjadi ilusi.


Aku teringat berkata pada diriku sendiri di dalam tidurku bahwa mimpiku itu nyata,  bahkan terasa lebih nyata daripada kenyataan dan terasa lebih baik andai saja itu benar-benar nyata.

Namun, itu memang benar, mimpi hanya terasa nyata jika ia masih berlangsung. Ketika kita terbangun, mimpi itu hilang tak berbekas.


Rasanya, hidup juga seperti itu. Setelah kita mati nanti, segala hal yang berada di dalam hidup ini akan terasa tidak nyata. Seperti  halnya mimpi. Bahkan ketika kita masih hidup pun, kejadian yang kita alami sajam yang lalu hanya akan tinggal menjadi sekeping memori sehingga tak ada bedanya dengan mimpi.


Contohnya,  jika sebelum tidur, seseorang meminum segelas teh. Namun pada saat tidur dia bermimpi meminum segelas susu. Nah, saat bangun tidur nanti, orang itu pasti akan kebingungan semalam dia sebenarnya minum teh atau susu. Sebab di dalam pikirannya, semua sama saja. Sama-sama menjadi sekeping memori.




Dream is destiny

The trick is to combine your waking rational abilities with the infinite possibilities of your dream. Because if you can do that, you can do anything.


Mimpi adalah takdir. Mimpi itu adalah petunjuk jalan ke arah takduir yang sebenarnya. Jika menggabungkan kemampuan rasional dengan kemungkinan tak terbatas dari mimpi, apapun bisa terjadi.


Namun saat impian itu telah tercapai atau terjadi, kadangkala tidak seindah atau se-wah yang kita bayangkan. Rasanya emang selalu seperti itu kejadiannya, kalau kita sudah mendapatkan sesuatu yang selama ini kita kejar-kejar, apapun itu, kita akan bingung harus melakukan apa setelahnya. Jadi setelah itu kita bertanya-tanya sendiri mengapa dulu kita sebegitu sibuk mengejarnya. Memang lebih menyenangkan mengejar impian daripada memilikinya. Begitu suatu impian berhasil kita dapatkan, tiba-tiba tanpa berkedip sedikitpun, whoosh, impian itu hilang ditelan kenyataan.

2 komentar: