They say that dream are only real as
long as they last. Couldn’t you say the same thing about life?
Jika mimpi
terasa nyata selama mimpi itu masih berlangsung, bukankah hal yang sama berlaku
terhadap kehidupan? Artinya, jika kehidupan telah berlalu masih bisakah kita
menghatakan bahwa kehidupan yang kita jalani itu nyata? Padahal, yang tersisa
hanyalah kepingan-kepingan memori yang sama sekali tidak terasa nyata.
Seperti
halnya saat kita bertemu, saling tertarik menghabiskan waktu bersama-sama, lalu
putus. Itu kan yang terjadi pada semua orang pacaran? Hanya saja ‘kita’ hanya
terjadi dalam waktu yang singkat.
Well, dua
minggu, enam bulan, dua tahun, sepuluh tahun, tak akan ada bedanya. Setelah
orang yang pernah menjadi pasangan kita pergi, semuanya berakhir. Semua
kenangan tinggal kenangan. Akhir cerita.
Hidup tak
lebih nyata dibandingkan mimpi. Waktu tak lebih dari sekedar ilusi. Siapapun
diri kita atau orang yang bersama dengan kita sekarang, semuanya suatu saat
hanya akan menjadi memori. Jadi tak peduli sebesar apapun cinta kita terhadap
seseorang, pada akhirnya semuanya akan berakhir. Menguap menjadi ilusi.
Aku teringat
berkata pada diriku sendiri di dalam tidurku bahwa mimpiku itu nyata, bahkan terasa lebih nyata daripada kenyataan
dan terasa lebih baik andai saja itu benar-benar nyata.
Namun, itu
memang benar, mimpi hanya terasa nyata jika ia masih berlangsung. Ketika kita
terbangun, mimpi itu hilang tak berbekas.
Rasanya,
hidup juga seperti itu. Setelah kita mati nanti, segala hal yang berada di
dalam hidup ini akan terasa tidak nyata. Seperti halnya mimpi. Bahkan
ketika kita masih hidup pun, kejadian yang kita alami sajam yang lalu hanya
akan tinggal menjadi sekeping memori sehingga tak ada bedanya dengan mimpi.
Contohnya, jika sebelum tidur, seseorang meminum segelas
teh. Namun pada saat tidur dia bermimpi meminum segelas susu. Nah, saat bangun
tidur nanti, orang itu pasti akan kebingungan semalam dia sebenarnya minum teh
atau susu. Sebab di dalam pikirannya, semua sama saja. Sama-sama menjadi sekeping
memori.
Dream is destiny
The trick is to combine your waking
rational abilities with the infinite possibilities of your dream. Because if
you can do that, you can do anything.
Mimpi adalah
takdir. Mimpi itu adalah petunjuk jalan ke arah takduir yang sebenarnya. Jika
menggabungkan kemampuan rasional dengan kemungkinan tak terbatas dari mimpi,
apapun bisa terjadi.
Namun saat
impian itu telah tercapai atau terjadi, kadangkala tidak seindah atau se-wah
yang kita bayangkan. Rasanya emang selalu seperti itu kejadiannya, kalau kita sudah
mendapatkan sesuatu yang selama ini kita kejar-kejar, apapun itu, kita akan
bingung harus melakukan apa setelahnya. Jadi setelah itu kita bertanya-tanya
sendiri mengapa dulu kita sebegitu sibuk mengejarnya. Memang lebih menyenangkan
mengejar impian daripada memilikinya. Begitu suatu impian berhasil kita
dapatkan, tiba-tiba tanpa berkedip sedikitpun, whoosh, impian itu hilang ditelan
kenyataan.


bagus yul :)
BalasHapusterima kasih kak:)
Hapus